Cara Perawatan Bibit Aglaonema Untuk Memperbanyak Aglaonema

Cara Perawatan Bibit Aglaonema Untuk Memperbanyak Aglaonema

Bibit Aglaonema : Prima atau tidaknya tanaman kelak bergantung penuh pada bibit awal.Karena itu, seleksi bibit yang unggul dan sehat sejak dini menjadi hal terpenting. Pilih tanaman yang sehat. Ciri-cirinya, daun tegak, kekar, tebal, dan pucuk keras. Penampilan seperti itu menandakan akar sehat sehingga penyerapan air atau hara dapat berjalan lancar. Jangan pilih daun yang terkesan tipis, jatuh, atau gemulai. Pucuk daun juga harus segar, membentuk sudut sekitar 45 derajat dengan batang. Mengapa harus berdaun tebal? Aglaonema seperti itu mempunyai daya tahan lebih baik ketimbang daun tipis pada jenis yang sama. Namun, perlu dibedakan, daun tebal secara alami dengan daun tebal karena over dosis nitrogen. Daun tebal alami akan tampak lebih kokoh daripada daun kelebihan nitrogen. Yang subur karena pupuk akan rentan terhadap gangguan hama dan penyakit, serta gangguan fisiologis. Daun yang lebih tipis sangat rentan terhadap perubahan iklim. Misalnya saat suhu berubah naik, maka daun cepat layu akibat evapotranspirasi yang berlangsung cepat.

Bibit Aglaonema

Bibit Aglaonema

Daun yang tegak menunjukkan tanaman sehat dan kokoh. Namun, tidak
berarti semua daun yang menjuntai tidak bagus. Beberapa jenis sri rejeki asal Thailand umumnya berpenampilan seperti itu karena mewarisi sifat genetik dari Aglaonema cochinsinensis. Contohnya rainamira, super red, dan red
mascot. Ketiganya berdaun menjuntai, tetapi bisa tetap tampil maksimal saat dewasa.

Bibit Aglaonema mempunyai bentuk, corak, dan warna prima. Lebih baik lagi bila sebelumnya hobiis mengenal karakter genetik aslinya. Seringkali dijumpai bibit dengan nama serupa, tetapi warna dan corak berbeda. Yang satu terlihat
lebih cemerlang ketimbang lainnya. Itu karena pengaruh kualitas indukan dan cara perawatan.

Bila yang diinginkan daun berwarna merah, maka sejak anakan bisa dilakukan seleksi ketat. Syaratnya, tanaman itu mempunyai darah atau  potensi berwarna merah yang diwarisi dari induknya. Contoh petita. Mulailah dengan memilih petita yang merah. Ketika anakan muncul, lakukan seleksi. Pilih dan pertahankan anakan berdaun merah. Biasanya muncul pada bagian batang yang daunnya dominan merah. Pisahkan anakan dominan hijau saat  masih 2—3 lembar daun dari induk. Yang dipertahankan hanya anakan yang dominan merah. Dengan sedikit saingan, anakan merah akan cepat tumbuh. Bila si merah telah beranak, jangan terburu-buru memisahkan anakan. Tunggu
sampai memiliki minimal 8 daun. Saat itu warna daun sudah akan stabil. Pertimbangan lain, pilih tanaman dengan sosok paling menarik. Artinya, ia memiliki ketepatan tata letak atau komposisi. Arah tumbuh daun juga merata ke segala arah, tak terlihat salah arah atau tumbuh membengkok. Ukuran lebar dan panjang daun dari helaian pertama hingga akhir cenderung seragam. Bila daun terbawah berbeda jauh ukurannya dengan daun di atas, itu tanda  perawatan awal yang kurang intensif. Susunan daun harus proporsional, tampak seimbang kiri dan kanan, depan dan belakang. Seluruh persyaratan sosok dibutuhkan karena tanaman prima harus mempertimbangkan  kekompakan dan kelengkapan bagian tanaman. Perhatikan pula penampilan batang. Batang berkualitas memiliki jarak antarruas yang proporsional, tergantung jenisnya, kokoh, dan tegak. Jangan pilih tanaman dengan batang ngelancir, kurus, dan jarak antarruas terlalu panjang. Diameter batang harus besar, kokoh, dan keras. Semakin besar diameter batang, maka kelak sosok yang dihasilkan berstruktur kokoh dan kekar.

Sebaliknya, diameter batang kecil akan sulit menopang, apalagi mendukung pertumbuhan tanaman selanjutnya. Bila yang dipilih bibit kecil, ambil dari tanaman yang telah berdaun 5—6 helai. Pertimbangannya, ia sudah mulai berakar. Bibit dengan jumlah daun lebih sedikit bisa jadi belum berakar. Akibatnya, pertumbuhan lebih lambat dan penyerapan hara sangat terbatas. Bibit seperti itu memiliki risiko kematian yang tinggi. Kalaupun tumbuh akan menghasilkan daun yang lebih kecil ketimbang daun sebelumnya. Bibit Aglaonema yang terawat dengan benar akan mengeluarkan akar sejak daun pertama ada. Karena itu, ada baiknya minta izin kepada penjual apakah boleh mengecek kondisi akar. Periksa perakaran yang ada
dengan cara mengeluarkan bibit dari pot. Bibit y a n g baik mempunyai bola akar berwarna putih dan banyak.

Asal bibit juga mempengaruhi pertumbuhan dan tampilan tanaman selanjutnya. Bibit Aglaonema yang berasal dari pemisahan anakan, adalah yang terbaik. Ia akan menghasilkan bentuk, penampilan, dan laju pertumbuhan terbaik. Pemisahan anakan yang telah berdaun minimal 3 telah memiliki perakaran yang mendukung tahapan pertumbuhan seterusnya.
Kondisi seperti itu sulit ditandingi oleh bibit asal pemotongan bonggol. Meski demikian, selama bibit masih menyisakan minimal satu daun risiko kematian bisa ditekan

Umumnya, anakan yang dihasilkan bonggol tersisa pun sedikit, hanya 1—2 tunas. Bila bonggol tersisa masih memiliki banyak daun, anakan yang dihasilkan 4—5 tunas. Bahkan bila bonggol disisakan 1—3 lembar daun, maka ia tetap mampu menghasilkan anakan berdaun besar. Sebaliknya, jika tanpa daun sama sekali bonggol akan menghasilkan daun kecil karena terbatasnya pasokan makanan Saat pembibitan, media sangat berperan menekan
risiko kematian. Banyak pekebun menghindari menekan media saat menanam. Alasannya, akar bisa putus
sehingga merusak tanaman. Namun, bila kendala itu bisa diminimalisir, maka perlakuan itu dapat mempercepat
tumbuhnya akar. Alasannya karena batang tidak bergoyang sehingga akar bisa “terkonsentrasi” untuk menghasilkan akar. Berbagai teknik dilakukan, di antaranya mengikat ke tiang di samping pot

Selain cara ikat, penggunaan media tepat mempengaruhi keberhasilan pembibitan. Bibit Aglaonema asal pemisahan anakan dengan 3 daun dapat diperlakukan layaknya seperti tanaman remaja dengan media fermentasi. Yang sangat riskan yakni bibit asal setek batang atau bonggol. Ia harus menggunakan media yang bisa memegang air dan merangsang
pertumbuhan akar. Contohnya sabut kelapa yang dipadatkan dalam wadah, kemudian diberi lubang untuk menanam atau memasukkan pangkal batang atau akar. Ada pula yang memilih pasir malang halus sisa ayakan. Media itu terbuang setelah pasir kasar diambil. Bibit itu kemudian ditanam pada gelas plastik kecil. Dengan media
sangat halus, media jadi lebih padat yang membuat bibit tidak bergerak.

Bibit Aglaonema

Bibit Aglaonema

Karena tidak bergoyang, pembentukan akar lebih cepat terjadi. Juga ada yangmemanfaatkan cocopeat murni yang dipadatkan. Hasilnya, setek berakar dalam waktu kurang dari 3 minggu. Bibit hasil perbanyakan aglaonema dengan pemisahan dari induk akan selalu mengalami stres. Untuk mengurangi atau menghilangkan, tanaman disemprot Vit B1. Setelah itu sebaiknya tanaman dimasukkan dalam ruangan adaptasi yang berupa mist room alias ruang pengkabutan.
Kondisi ruang itu amat lembap dan suhu agak tinggi, 36°—40°C. Di ruangan itu, tanaman segera pulih dan segera mengeluarkan akar dan tunas. Ruang itu juga dapat dimanfaatkan untuk mengadaptasikan tanaman yang baru tiba
dari daerah lain. Selain mist room, pekebun juga bisa membuat sungkup massal yang berfungsi serupa ruang adapatasi.

Bedanya, ruang lebih sempit dan penyiraman tidak memakai pengabut. Sumber kelembapan dihasilkan dari air yang dibiarkan menggenang di lantai plastik. Konstruksi sungkup relatif murah karena terbuat dari pipa pvc yang dilengkungkan. Pipa-pipa itu dipasang pada dua pipa

sejajar berjarak 1—2 m. Selanjutnya di bagian atas dipasang plastik uv. Sedangkan di dasar lantai, dihamparkan plastik. Pinggir plastik dipasang melengkung agar menampung air. Ketinggian air diatur 1—2 cm. Selanjutnya, bibitbibit dimasukkan dan ditata secara teratur agar sungkup terisi maksimal. Tiga minggu kemudian bibit telah berakar.
Selain dimasukkan dalam ruang khusus, pembibitan juga bisa dilakukan secara sederhana. Yakni dengan pemasukkan dalam kantong plastik bening. Kondisi sama, amat lembap dan agak panas. Namun, agar bisa berfungsi secara sempurna, maka bagian atas harus diikat dan digantungkan. Bila tidak, ujung plastik kerap lunglai dan menimpa tanamanya. Akibatnya, pertumbuhan akar dan tunas terhambat. Salah satu cara untuk menghemat pemakaian tempat. Rak pembibitan yang biasanya memanjang bisa disusun ke atas. Sangat hemat tempat, dengan luasan 1 m2 bisa dimanfaatkan untuk puluhan pot. Penggunaan rak vertikal masih memungkinkan untuk bibit yang baru disetek atau potong. Sebab ia tidak membutuhkan cahaya banyak untuk pertumbuhan awal. Sekitar 3 minggu kemudian, bibit segera dikeluarkan. Saat itu, ia sudah berakar dan mampu untuk menyerap hara dari media. Agar bisa diolah jadi energi, ia butuh cahaya. ***

 

Sumber : Google

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Beli Aglaonema