Seputar Tanaman Sri Rejeki

Seputar Tanaman Sri Rejeki

Sejarah Tanaman Sri Rejeki

Tanaman sri rejeki dijuluki dengan “ratu daun”. Nama aglaonema berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata “aglaos” dan “nema/nematos” yang artinya terang/mengkilap. Tanaman ini masih satu famili dengan talas-talasan (Aracaeae) serta kerabat dekat dengan Spathipyllum dan Philodendron.

Tanaman Sri Rejeki

Tanaman Sri Rejeki

Penyebaran utama di Asia Tenggara meliputi Filipina, Indonesia, Malaysia, Thailand, Laos, Vietnam, Brunai Darussalam, dan Myanmar. Kemudian tanaman ini menyebar ke Cina, Florida, dan Amerika.

Tanaman

AKAR. Akar dapat menentukan kondisi tanaman. Jika akar berwarna putih maka tanaman dalam keadaan sehat, bila berwarna coklat menandakan tanaman sakit. Pada akar tumbuh rambut akar, makin banyak rambut akar pertumbuhan makin cepat.

BATANG. Ruas batang yang terendam tanah, jika kondisi optimumnya terpenuhi, maka akan keluar tunas-tunas baru.

BUNGA. Bunga keluar dari ketiak daun dan berwarna putih yang ditopang oleh batang. Bunga termasuk uniseksual yaitu bagian bunga betina dan jantan terdapat dalam satu bunga. Organ produksinya mempunyai waktu matang yang berbeda. Oleh karena itu terjadi penyerbukan silang yang kadangkala memerlukan bantuan manusia. Hasil penyerbukan menghasilkan buah, yang umurnya 8 bulan akan matang.

Morfologi Aglaonema

Divisi: Magnoliophyta

Kelas: Liliopsida

Subkelas: Base monocots

Ordo: Alismatales

Famili: Aracaeae

Subfamili: Aroideae

Suku/Genus: Aglaonemateae

Spesies vs Hibrida

Aglaonema alam/spesies adalah aglaonema yang asli (bukan hasil silangan). Ciri utamanya warna daun dominan hijau dan kombinasi hijau putih.

Aglaonema hibrida (silangan) memiliki daun lebih berwarna-warni. Ada silangan lokal yaitu disilangkan di Indonesia, dan ada yang impor. Silangan lokal pertama dan diakui dunia adalah Pride of Sumatra yang disilangkan oleh Greg Hambali tahun 1985.

Aglaonema spesies yang terkenal: A. brevisphatum, A. simplex, A. costatum, A. ovatum, A. commutatum, A. hookreiatum, A. crispum, A. pictum, A. stenophyllum, A. nebulosum, A. densinervivum, A. vittatum, A. philippinense, A. rotundum, A. pumilum, A. nitidum, A. simplex, A. cochinchinense, dan A. marantifolium.

Jenis Media Tanam

Media

Tanaman Sri Rejeki

Tanaman Sri Rejeki

Pakis. Pakis menyimpan air dengan baik dan memiliki drainase set aerasi yang bagus. Pada media ini akar tanaman dapat menyerap air dengan mudah dan leluasa berkembang. Pakis tidak mudah lapuk dan memiliki daya tahan lebih baik.

Cocopeat. Cocopeat merupakan sabut kelapa yang telah diolah. Media ini digunakan bila diinginkan kelembaban, karena cocopeat dapat menahan air cukup lama dalam jumlah banyak. Sifatnya yang mudah lapuk maka biasanya dikombinasikan dengan media lain. Bentuk cocopeat bermacam-macam, tetapi yang sering dipakai adalah kubus kecil dan serbuk.

Sekam bakar. Media terbuat dari sekam padi yang telah dibakar. Sifatnya steril dan tahan sampai 1 tahun. Aerasinya baik tapi daya serap air kurang. Oleh sebab itu sekam biasanya dikombinasikan dengan media lain yang cukup menyerap air.

Pasir malang. Tingkat porositas pasir malang cukup baik. Media ini digunakan untuk mencegah media yang terlalu basah dan air yang menggenang.

Kaliandra. Media ini cocok untuk daerah kering dan panas. Media ini cepat lembab sehingga rawan terjangkit cendawan. Kaliandra mudah lapuk dan hanya tahan 4-6 bulan.
Styrofoam. Bahan ini banyak digunakan untuk menambah porositas dan aerasi. Penggunaannya, dipotong-potong membentuk kubus kecil dan ditaruh di dasar pot.

Pembiakan Tanaman Sri Rejeki

Cara Pembiakan Aglaonema:

  • Potong Pucuk
  • Pemisahan Anakan
  • Induksi Anakan

1. POTONG PUCUK

Syarat Potong Pucuk (agar hasil maksimal):

Aglaonema dewasa terdiri atas 8-10 daun.

Kondisi: daun segar, kokoh, dan daun mudah tak mengecil.

Tanaman berakar kuat, putih, gemuk, dan tak busuk.

Media Tanam Hasil Potong (alternatif 1)

  • Pasir malang 5
  • Humus andam 2
  • Pakis 2
  • Sekam 1

Media Tanam Hasil Potong (alternatif 2)

  • Sekam bakar 70
  • Cocopeat 12,5
  • Pasir malang 12,5
  • Dolomit (untuk menetralisir pH) 5

Media Tanam Hasil Potong (alternatif 3)

  • Sekam bakar saja
  • Pemotongan Pucuk:
  • Korek media sehingga terlihat akar.

Pilih pucuk yang akan dipotong yang memiliki 3 akar untuk mencegah kematian. Potong pucuk dengan menyisakan minimal 1 daun pada tanaman induk. Olesi bekas potongan, baik di induk maupun pada pucuk, dengan antiseptik (obat penutup luka) atau celupkan ke larutan fungisida.Setelah olesan pada bagian luka di tanaman pucuk kering (sekitar 5 menit) tanamlah pada media.Siram pucuk yang baru ditanam. Untuk induk baru disiram setelah 3 hari untuk menghindari busuk batang.

Perawatan Hasil Potongan

Letakkan pucuk aglaonema yang memiliki ketahanan tinggi (seperti snow white dan pride of sumatera) di bawah jaring peneduh 65% sebanyak 2 lapis.Aglaonema yang agak ringkih (seperti legacy dan venus) taruh di bawah jaring dan plastik UV agar terhindar dari hujan.

Ada yang menyarankan pula untuk mengikat daunnya dengan tali rafia untuk menghindari banyak penguapan. Berikan vitamin B1 seperti Liquinox sebanyak 2cc/l setiap 3 hari sekali dengan cara disemprotkan untuk mempercepat pembentukan akar.

Jaga tanaman jangan sampai kekuarangan air.

Perawatan Induk

Untuk merangsang tunas, semprotkan campuran auksin dan sitokinin murni satu minggu sekali. Pemberian cukup 2 kali.

Selang 1 bulan, muncul 2-3 tunas. Tunas bisa dipisahkan setelah berdaun 5 helai (6 bulan kemudian)

2. PEMISAHAN ANAKAN

Pilih induk yang sehat dengan banyak rumpun anakan.Potong anakan dengan hati-hati. Sisakan sedikit ruas pada indukan agar masih bertunas lagi.Oleskan perangsang akar pada bekas potongan di induk. Tujuannya agar mempercepat tumbuhnya tunas baru.Celupkan seluruh bagian tanaman anakan ke dalam larutan fungisida untuk mencegah infeksi jamur.Tanam anakan di mdeia tanam berupa campuran sekam bakar dan coco peat (3:1).Letakkan anakan tanaman di tempat yang teduh sampai berakar (sekitar 3 minggu).Beri pupuk dengan vitamin B1, seperti Liquinox atau IPI, sebanyak 2 cc/l setiap 3 hari sekali untuk mempercepat pembentukan akar.

3. PERBANYAKAN DENGAN INDUKSI ANAKAN

Siapkan induk aglaonema. Siapkan bambu yang ujungnya runcing sebesar tusuk sate.Celupkan ujung bambu yang tajam ke larutan fungisida. Tusuk batang agalonema di bagian batang bawah atau setinggi 2 cm dari media.Setelah 1-2 bulan, anakan akan mulai bermunculan. Rawat indukan dengan pemupukan teratur sehingga dihasilkan anak secara kontinyu. Pemupukan satu minggu sekali dengan larutan NPK seimbang.Lakukan penggantian media pada indukan minimal 6 bulan sekali.

Kondisi dan Media Tanaman Aglaonema

Ketinggian. Tanaman Sri Rejeki yang bertekstur tebal, corak daun terang, dan sosok kokoh dapat tumbuh di dataran sedang, sekitar 300-400 di atas permukaan laut. Namun Aglaonema juga tumbuh di dataran rendah dan daun justru lebih cepat tumbuh di daerah ini yaitu sekitar 25-30 hari (di dataran sedang 35 hari).

Suhu. Tanaman Sri Rejeki dapat tumbuh ideal pada suhu di dataran rendah, yaitu 24-27 oC siang hari dan 18-21 oC di malam hari. Selain itu Aglaonema juga cocok tumbuh di dataran rendah dengan suhu siang hari 27-30 oC dan malam hari 21-24 oC. Suhu yang terlalu rendah menyebabkan kekurangan fosfor dan merangsang produksi klorofil sehingga dapat menutup warna merah pada daun. Sedangkan suhu terlalu tinggi menjadikan daun menjadi pucat.

Kelembaban. Tanaman Sri Rejeki akan tumbuh dengan baik pada kelembaban 50-75%. Kelembaban di bawah 50% menyebabkan daun mudah cepat kering dan layu. Kelembaban di atas 75% menyebabkan tumbuh cendawan pada media tanam.

Cahaya. Tanaman Sri Rejeki yang terlalu banyak terkena sinar matahari akan menyebabkan daun terbakar dan menguning lalu coklat kehitaman. Bila lokasi penanaman di dataran sedang gunakan shading net 75% agar hanya 25% cahaya yang masuk. Di dataran rendah dianjurkan menggunakan shading net 80-85%.

Media Tanam

Kondisi media tanam yang perlu diperhatikan adalah keasaman (pH) dan porositas. Tingkat keasaman mempengaruhi daya serap akar terhadap hara, sedangkan porositas mempengaruhi kelembaban media tanam. Tingkat keasaman media dipengaruhi oleh kandungan haranya. Unsur-unsur zat hara tersedia secara optimal pada media tanam bila tingkat keasaman (pH) berskisar 6-7.

Keasaman. Tanaman Sri Rejeki tumbuh dengan baik pada pH 7 atau disebut pH netral. Tingkat keasaman yang rendah dapat merusak sel-sel akar karena kandungan mangan yang berlebihan. Kondisi asam juga memicu jumlah alumunium yang berlebihan sehingga menghambat penyerapan fosfor oleh akar. Sedangkan bila pH tinggi (basa), beberapa jenis cendawan lebih mudah tumbuh sehingga mengganggu pertumbuhan. Bila pH rendah gunakan kalsit atau dolomit. Bila pH tinggi, turunkan dengan menggunakan belerang. Bila diinginkan proses lebih cepat, ganti medianya.

Porositas. Tingkat porositas media yang diperlukan tanaman tergantung pada ketinggian daerah dan kelembaban udara. Pada dataran rendah yang curah hujan rendah dan panas, media tanam sebaiknya yang bisa menahan air sehingga media tidak kering. Pada dataran tinggi yang umumnya sering hujan, gunakan media dengan porositas tinggi.

Berbagai komposisi media telah digunakan, sesuaikan dengan kebutuhan dan lingkungan.

pakis (3):pasir malang (2):kaliandra (1)

sekam bakar (2):cocopeat (1):pasir (1)

pakis (2):pasir (1):sekam bakar (1):cocopeat (1)

cocopeat (5):sekam bakar/humus (5):pupuk kandang (1)

cocopeat (5):sekam bakar (3):kompos organik (2)

pakis tua (lebih renggas) (60):sekam bakar (20):cocopeat (10):humus (5):kompos (5)

Jurus Jitu Memilih Tanaman Sri Rejeki

Agar Berkualitas dan Bernilai Tinggi

Keindahan aglaonema tak pernah ada batasnya. Stok silangan yang terproduksi dari lokal maupun impor, membuat kita tak pernah bosan dengan tanaman hias yang juga dikenal dengan nama sri rejeki ini. Namun pertanyaannya, bagaimana memilih aglaonema impor atau lokal yang baik dan apakah merawatnya semudah kita memilih tanaman ini di toko bunga?

Membeli tanaman idola memang gampang-gampang susah, termasuk membeli aglaonema. Maklum, sebulan belakangan pamor aglaonema memang ‘naik pangkat’. Sebelum membeli aglaonema, sebaiknya kita paham dengan barang yang akan dibeli. Sebab pada dasarnya, beberapa aglaonema memiliki keunggulan dan ciri khusus, hingga tak jarang jika lengah berakibat pada penularan koleksi lain.
Saat ini, jika dispesifikasikan ada tiga kelompok besar aglaonema yang biasa didapat di pasaran, yaitu aglaonema lokal non silangan, lokal, dan impor silangan. Menurut Pakar Aglaonema Indonesia, Gregori Garnadi Hambali, saat ditemui di Banjarbaru Kalimantan Selatan (Kalsel) belum lama ini, sebenarnya ada lagi aglaonema lokal non silangan dari luar (umumnya dari Belandan dan Amerika). Hanya ketetatnya birokrasi dan sistematika pindah tangan, membuat jenis ini sulit untuk keluar.
Terpenting adalah mengenal ciri yang ada pada beberapa golongan Tanaman Sri Rejeki tersebut. Selain berguna bagi proses pemeliharaan dan perawatan, tahap ini bisa meminimalisir kekecewaan pasca pembelian tanaman (karena cepat mati atau sering terserang penyakit). Aglaonema silangan impor, menurut Greg, jenis ini sering dengan perwujudan yang fantastis.
Itu ditandai dengan kemunculan warna-warna yang kontras, seperti kuning dan merah sampai warna solid salah satunya. Karena kebanyakan dihasilkan dari kultur jaringan (mayoritas produk Thailand sebagai negara pengimpor aglaonema terbesar di Indonesia), umumnya jenis ini memiliki daun yang lebih tipis ketimbang hasil budidaya biji. Namun keistimewaannya, jenis ini memiliki struktur permukaan daun yang lebih halus.
Beberapa orang beranggapan, daun yang tipis bisa jadi tebal ketika dibawa ke Indonesia. Pengaruh musim, diduga melatar-belakangi perkembangan daun ini. Secara umum, dalam hal estetika aglaonema impor silangan unggul jauh. Hanya karena dibudidaya secara instan dan tak melalui metode pemuliaan yang panjang, tak jarang jenis ini rentan penyakit. Tak jarang, jenis ini juga disebut-sebut pembawa wabah penyakit yang siap menular ke aglaonema koleksi lain.

“Berhati hatilah memberi aglaonema impor. Jika ragu, gunakan sistem karantina yang cukup sampai dirasa aglaonema steril dari penyakit. Sistem karantina bermacam-macam, bisa menggunakan desin-sektan atau memberi spase tersendiri aglaonema yang baru datang,” ungkap Greg.

Untuk memastikan kesehatan tanaman, usahakan tak hanya melihat dari daun yang menarik, tapi juga akar dan batang bawah. Semakin banyak ditemukan kebusukan di akar dan batang bawah, makin tak sehat tanaman.
Aglaonema Lokal Silangan

Jenis kedua adalah aglaonema lokal silangan. Jenis ini biasanya lebih tahan banting bila dibandingkan dengan jenis impor. Tak mau kalah dengan jenis impor, jenis lokal silangan sangat kuat dalam hal komposisi warna. Gradasi warna dasar dan baru, membuat motifnya menarik. Contoh paling mudah dapat kita lihat dari aglaonema silangan fenomenal Pride of Sumatera (POS).

Daun yang tebal jadi keistimewaan selanjutnya, meski daun yang ada tak sehalus struktur daun jenis aglaonema selangan impor. Beberapa jenis juga sering rentan menderita sakit akibat virus. Penyusunan gen yang tak sempurna diduga jadi latar belakang fenomena ini. Namun secara umum, Tanaman Sri Rejeki silangan lokal jarang sakit seperti aglaonema silangan impor.
Meski berembel-embel lokal, jangan meremehkan dalam hal harga. Pasalnya, jika dilihat dari perputarannya hasil silangan pertama jenis ini bisa dihargai sampai Rp 50 juta. Ini yang sering terjadi pada koleksi Greg yang dipinang kolektor lain. Memilih jenis ini yang berkualitas pada dasarnya sama dengan aglaonema impor silangan. Daun, akar, dan batang bawah jadi sorotan yang harus tak terlewatkan. Usahakan melihat akar yang telah tertancap di pot. Semakin banyak dan jarang busuk adalah pertanda tanaman sehat.
Aglaonema Lokal

Jenis terakhir adalah Tanaman Sri Rejeki lokal. Meski dulu jarang dilirik dan keberadaannya hanya difungsikan sebagai indukan, tapi kini pencinta jenis ini kian marak. Bahkan tak mau kalah, pemilik aglaonema yang kebanyakan didominasi warna hijau dan putih ini sudah berani unjuk gigi dengan mendaftar setiap kontes aglaonema digelar.

Tanaman Sri Rejeki Karena jika kita membicarakan warna, jenis ini kalah telak dengan jenis silangan lokal maupun impor. Umumnya, jenis ini memiliki keunggulan di bentuk daun. Daun besar dan aneka bentuk lancip adalah bentuk yang sering dijumpai pada aglaonema lokal. Karena sering dijumpai dan sudah familiar hidup di Indonesia, jenis ini banyak ditemukan di mana-mana dan berjumlah banyak, sehingga dalam hal harga jenis ini tergolong paling murah ketimbang dua jenis sebelumnya.

“Di pasaran, aglaonema lokal yang sudah berusia dewasa sering dijual maksimal Rp 500 ribu (untuk tanaman yang belum menang kontes). Jika sudah merasakan gelar, harga naik jadi dua kali lipat sekitar Rp 10 juta per pot,” jelas M Zainudin, Kolektor dan Pecinta Aglaonema Lokal di Banjarbaru Kalsel.

Jika melihat serangan penyakit dari virus dan bakteri, jenis ini paling tahan banting. Namun umumnya, jika melihat musuh alaminya, aglaonema lokal sering jadi santapan lezat serangga dan jamur, sehingga jika Anda memutuskan untuk membeli jenis ini, usahakan daun yang ada tak memiliki sedikit pun bekas jamur dan serangga atau telur-telur serangga yang biasa melekat. [adi]

Bedakan Lokal dengan Impor

Langkah ini diambil untuk membedakan mana jenis aglaonema lokal yang didatangkan dari luar negeri dengan proses kultur jaringan. Memang saat ini untuk aglaonema lokal mendapatkan apresiasi besar, terutama dari karya Greg Hambali. Namun masalahnya, produksi dalam negeri masih belum mampu memenuhi permintaan pasar yang besar.
Sebab dengan cara pengembang-biakan secara tradisional, maka untuk mendapatkan bibit baru membutuhkan waktu yang lama. Sementara untuk melakukan pembiakan masal dengan kultur jaringan masih sedikit yang bisa membuatnya. Padahal proses kultur jadi satu-satunya cara pembiakan secara masal dan celakanya pelaku industri tanaman hias lokal kurang bisa menangkap peluang ini. Akhirnya, mau tak mau Thailand jadi tujuan utama mencari produk aglaonema yang dihasilkan oleh anak bangsa.
Beruntung hasil aglaonema dari kultur jaringan melalui impor – meski dari jenis yang sama – tapi punya karakter berbeda. Untuk membedakan aglaonema lokal yang diperbanyak secara alami lewat stek maupun cangkok dengan aglaonema dari kultur jaringan, menurut M Siregar – Penghobi Tanaman Hias di Banjarmasin Kalsel, itu ternyata mudah. Wajar, karena bagi penghobi berpengalaman bukan hal sulit, tapi bagi pemula lain ceritanya.

“Paling gampang melihat struktur warna merah yang jadi ciri khas produk lokal,” tandas Siregar.

Untuk produk alami, warna merah yang muncul bisa cerah dan tegas, terutama untuk bagian belakang daun, tangkai daun, dan motif di permukaan daun. Kondisi ini berbeda dengan hasil dari kultur yang memiliki warna lebih pudar. Pudar di sini tetap memberikan kesan merah, tapi tak begitu cerah.
Selanjutnya yang paling mudah dilihat adalah dari ukuran daun yang lebih kecil dibandingkan jenis lokal. Pembanding ini sulit, karena harus melihat dulu aglaonema lokal. Namun bisa juga dilihat dari daun tua yang ada di bawah. Bila daun tua jauh lebih kecil dari daun baru, itu jadi ciri khas dari hasil kultur jaringan. Namun jangan khawatir bila mendapatkan produk kultur, karena saat tumbuh tunas baru, maka kualitas anakan akan sama dengan aglaonema lokal. Sebab, sudah melalui perbanyakan secara alami. [wo2k]

Menjadikan Tanaman Sri Rejeki Berharga Mahal

Patokan harga tinggi untuk beberapa jenis aglaonema, tentu berkaitan dengan urusan tampilan maksimal. Selama ini keberadaan aglaonema impor bisa disejajarkan dengan jenis lokal. Hanya varian untuk jenis impor lebih beragam, sehingga kehadirannya makin memperkaya khasanah tanaman hias Tanah Air.

“Pada dasarnya, semua tanaman itu memiliki nilai ekonomi. Hanya untuk tinggi-rendahnya bergantung pada pesona yang ditampilkan,” imbuh Greg.

Untuk aglaonema jenis impor masih memegang kendali cukup kuat. Lantaran beragamnya jenis yang ditampilkan, sehingga konsumen pun mempunyai banyak alternatif untuk memilih, seperti harga aglaonema silangan dari Thailand yang memiliki nama pasar legacy, harga yang dipatok tergolong tinggi, yaitu Rp 500 ribu per tanaman atau bahkan harga ini bisa lebih tinggi.
Itu bergantung pada tampilannya, dimana semakin berkarakter tentu akan berpengaruh pada nilai jualnya. Ini berkaitan dengan nilai estetika, tren, dan kelangkaan. Sepertinya, membuat tanaman tampil prima bukan jadi satu hal yang sulit dilakukan, dimana tampilan yang maksimal akan berdampak pada tingginya nilai ekonomi. Ingin tahu kiat membuat pesonanya tampil ciamik, baik untuk aglaonema jenis lokal ataupun impor.

Khusus Penghobi

Ada beberapa kriteria yang diperhatikan untuk membuat tanaman berharga mahal dengan tampilan optimal. Utamanya adalah masalah kelangkaan, keunikan, terawatt, dan tren – dimana penghobi di sini sebagai end user yang menilai tanaman bukan hanya dari harga, tapi lebih ke pesona tanaman keseluruhan.
1. Langka
Faktor kelangkaan bisa memicu mahalnya tanaman. Kelangkaan ini bisa ditimbulkan dari sulitnya dikembang-biakan, masih sedikit yang menjual karena tak tren atau tanaman banyak, tapi penjualnya tak mau melepas. Jadi bisa dikategorikan sebagai langka di pasar dan langka, karena sulit dikembang-biakan.
2. Unik
Semua tanaman unik dan tak memiliki perbedaan antara satu dengan yang lain. Tapi unik yang dimaksud adalah memiliki ciri khas mencolok dan berbeda dari aslinya. Di pasaran dikenal istilah variegata dan mutasi. Kadang ada juga yang menyebut albino. Kebanyakan tanaman yang variegata dihasilkan dari biji. Mutasi adalah kelainan yang terjadi, karena campur tangan alam (penyakit karena virus atau faktor bawaan lain) atau campur tangan manusia. Biasa dikenal dengan rekayasa genetik.
3. Perawatan Optimal
Tanaman yang terawat baik akan memiliki bentuk yang baik dan sehat. Karena terawatt, maka bentuk daun, batang, dan bunga jadi lebih indah. Tanaman yang mahal pun apabila tak terawat dengan baik akan berkurang nilainya. Misalnya, aglaonema yang daunnya rusak, pasti tak dihitung dalam penilaian. Itu berkaitan juga dengan keserempakan daun yang makin menambah nilai.
4. Membaca Tren
Seperti halnya fashion, tanaman punya tren sendiri. Saat tren turun, otomatis tanaman akan turun nilainya. Turunnya nilai bukan karena tanaman tersebut tak unik atau tak terawat, tapi mutlak karena hukum pasar.
5. Kenali Hukum Pasar
Saat sedang tren atau memang langka, maka persediaan biasanya tak sebanding dengan permintaan. Sesuai hukum pasar, maka naiklah harganya. Ini wajar terjadi di dunia tanaman hias, berputar sesuai dengan siklusnya.

Bagi Pedagang

Tak dapat dipungkiri, para pedagang lebih berharap pada profit oriented. Namun bukan berarti tak memperhitungkan kualitas barang. Inilah yang paling orang mau lakukan walau tak mudah melakukannya. Tanaman bisa dibuat jadi mahal apabila Anda mau mengerjakan hal-hal berikut:

1. Merawat tanaman dengan baik
Ini adalah mutlak. Tanaman yang terawat baik secara kasat mata akan indah. Walau hanya sekedar tanaman sansiviera yang biasa ada di pinggir jalan, kalau dirawat dengan baik pasti akan punya nilai yang lebih tinggi. Perawatan adalah dengan memberikan tempat yang baik (pot dan media), melakukan perawatan daun kalau tanaman itu punya nilai di daunnya, memberikan pupuk yang tepat, mengganti media saat dibutuhkan, dan terus mengecek kesehatan secara berkala. Dalam hal ini juga bisa dilakukan proses pembentukan, supaya bentuk lebih indah dan kompak.

2. Koleksi tanaman unik dan langka
Kadang tanaman jenis unik dan langka tak serta-merta harganya mahal saat membeli. Pemilihan tanaman unik bisa dilakukan dengan berkeliling di kebun pembibitan tanaman hias. Biasanya bibit unik bisa mulai terdeteksi saat usia seedling muda. Untuk tanaman langka bisa berburu langsung ke daerah yang bersangkutan. Tanaman langka biasanya sulit ditemukan di nurseri biasa. Kalau ada sedikit kenekatan dan modal, bisa saja langsung cari ke nurseri di luar negeri. Pembelian bisa lewat internet atau langsung ke lokasi.

3. Pintar prediksi tren tanaman
Dalam hal ini lebih mengandalkan kemampuan insting, yaitu dengan memperbanyak referensi tentang jenis tanaman, baik dari media ataupun komunitas yang banyak terbentuk di masing-masing kota. Hanya diperhatikan bahwa tren tanaman biasanya berputar. Jadi kalau ketinggalan tren – tak masalah – toh nantinya tanaman kita bisa terangkat naik

Jenis Media Tanaman Sri Rejeki

Media
Pakis. Pakis menyimpan air dengan baik dan memiliki drainase set aerasi yang bagus. Pada media ini akar tanaman dapat menyerap air dengan mudah dan leluasa berkembang. Pakis tidak mudah lapuk dan memiliki daya tahan lebih baik.
Cocopeat. Cocopeat merupakan sabut kelapa yang telah diolah. Media ini digunakan bila diinginkan kelembaban, karena cocopeat dapat menahan air cukup lama dalam jumlah banyak. Sifatnya yang mudah lapuk maka biasanya dikombinasikan dengan media lain. Bentuk cocopeat bermacam-macam, tetapi yang sering dipakai adalah kubus kecil dan serbuk.
Sekam bakar. Media terbuat dari sekam padi yang telah dibakar. Sifatnya steril dan tahan sampai 1 tahun. Aerasinya baik tapi daya serap air kurang. Oleh sebab itu sekam biasanya dikombinasikan dengan media lain yang cukup menyerap air.
Pasir malang. Tingkat porositas pasir malang cukup baik. Media ini digunakan untuk mencegah media yang terlalu basah dan air yang menggenang.
Kaliandra. Media ini cocok untuk daerah kering dan panas. Media ini cepat lembab sehingga rawan terjangkit cendawan. Kaliandra mudah lapuk dan hanya tahan 4-6 bulan.
Styrofoam. Bahan ini banyak digunakan untuk menambah porositas dan aerasi. Penggunaannya, dipotong-potong membentuk kubus kecil dan ditaruh di dasar pot.

Agar Tanaman Sri Rejeki Tetap Cantik

Dalam menjaga kecantikan aglaonema, media tanam dan pemilihan pupuk adalah kunci utama. Jika penggunaan media tanam salah, jarang diganti atau kurang tertata, aglaonema akan terlihat tidak maksimal, bahkan tidak bisa berumur panjang. Selain itu, penggunaan bahan pupuk yang tidak tepat, seringkali menghilangkan warna pada daun.

Idealnya, untuk melakukan repotting dan mengganti media tanam, dilakukan paling tidak 6-12 bulan sekali. Itu untuk menghindari pertumbuhan kuman dan bakteri yang tumbuh di media tanam. Penggunaan insektisida dan fungisida memang tidak dilarang, namun untuk menghindari penggunaan bahan kimia berlebih, repotting adalah cara yang bisa diandalkan.

Selain nutrisi dan menghindari jamur, pergantian media tanam yang terlalu sering juga tidak dianjurkan. Sebab, hal itu bisa membuat tanaman jadi stres. Bagaimanapun, tanaman memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan media tanam yang baru, sehingga lakukan perbaikan letak tanaman dan sesuaikan pada saat proses repotting. Dalam beberapa kasus, aglaonema juga bisa diletakkan di media tanam non tanah, seperti pakis dan sekam. Bahkan untuk mempercantik tanaman, media tanam bisa diganti dengan hidro gell.

Pemilihan media pupuk sebaiknya diperhatikan. Saat ini di pasaran tersedia berbagai merk dengan kandungan tertentu, salah satunya adalah pupuk dengan kandungan N (Nitrogen) terlalu tinggi. Bagi tanaman yang berwarna hijau, bahan ini sangat cocok, karena bisa merangsang pertumbuhan klorofil. Namun untuk jenis-jenis aglaonema berwarna-warni, seperti merah, putih, dan kuning, tunggu dulu. Penggunaan bahan ini malah tidak disarankan, karena bisa membuat warna daun jadi pudar.

GOOGLE

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Beli Aglaonema