Tips dan Trik Cara Merawat Tanaman Aglaonema dengan baik dan benar

Tips dan Trik Cara Merawat Tanaman Aglaonema dengan baik dan benar

Cara Merawat Tanaman Aglaonema, ratu daun yang memancarkan keindahan, spirit, dan keberuntungan (yang satu ini maksudnya adalah kalau dipelihara dengan telaten, dia akan tumbuh sehat, indah dan bertunas jadi banyak – nah,bila dijual anakannya – pasti menguntungkan ! he…3x –, dan yang lebih menguntungkan lagi adalah dia produsen oksigen untuk bumi kita !)

Sayang, ratu daun ini agak manja, dan rentan terkena serangan penyakit (jamur/bakteri/virus, apalagi bila hasil kultur jaringan). Lingkungan yang membuat dia nyaman adalah tempat yang teduh (jadinya kita harus menanam pohon besar untuk menaungi aglaonema tersebut – he…he…he…–), dan media tanam yang poros. Pupuk yang tepat adalah NPK yang komposisinya seimbang, meski menyebabkan pertumbuhannya relatif lambat tapi semburat merahnya lebih dominan !. Itulah esensi aglaonema, meski keindahan bukan pada bunganya, tapi lebih indah daripada bunga desa.

Cara-cara untuk memelihara aglaonema telah banyak dipaparkan dan dijelaskan di dalam buku-buku panduan yang dipandang penting untuk diikuti oleh penyuka legacytanaman ini, tetapi dalam prakteknya tetap saja banyak kendala yang disebabkan oleh tidak terpenuhinya syarat-syarat yang dibutuhkan seperti dalam buku. Hal tersebut dapat dipahami mengingat ‘penyuka’ tidak sama dengan ‘petani’, dan pekarangan rumah tidak sama dengan kebun, rumah kaca, atau showroom pedagang bunga. Oleh karena itu yang perlu diperhatikan adalah pahami isi buku panduan yang ada dan sesuaikan dengan lingkungan pekarangan dimana kita tinggal.

Terdapat 2 faktor atribut yang perlu diperhatikan dalam memelihara tanaman aglaonema :

Tanam pandangan bahwa memelihara tanaman hias apapun adalah kebutuhan untuk memperloleh lingkungan yang hijau dan nyaman.
Pupuk kesabaran untuk tidak tergesa-gesa memborong berbagai jenis aglaonema secara bersamaan. Kita hanya perlu memulainya dengan 1 atau 2 pot tanaman aglaonema.
Bebarapa tip yang dapat dipertimbangkan ketika memelihara aglaonema :

Hunting tanaman aglaonema ke beberapa pedagang tanaman hias. Kenali bagaimana mereka menyimpan/memelihara aglaonema dagangannya. Lingkungan (intensitas cahaya/keteduhan, angin dan kelembaban) dimana kita membeli tanaman aglaonema menjadi titik awal untuk memulai mengadaptasi tanaman tersebut di pekarangan rumah. Sebaiknya pilih tanaman aglaonema bakalan yang berasal dari anakan (tunas baru/stek) yang relatif lebih tahan/bandel daripada hasil kultur jaringan. Jangan segan untuk meminta pedagang mengganti ukuran pot dengan yang lebih besar bila ukuran pot asal terlalu kecil (sebagai patokan, ukuran pot minimal sama dengan ujung daun).

Letakan pot tanaman pada tempat yang teduh (tidak terkena sinar matahari dalam waktu lama, dan untuk sementara tidak terkena air hujan secara langsung, serta sirkulasi udara baik. Jangan tergoda dulu untuk menyimpan tanaman aglaonema di dalam rumah (biasanya di ruang tamu). Bila kita yakin adaptasi tanaman sudah baik, pot tanaman dapat disimpan di tempat yang terkena air hujan dalam intensitas rendah, atau di dalam ruangan dengan rotasi 3 hari sekali untuk setiap tanaman.

Taburkan sekitar ½ – 1 sendok teh dekastar 13-13-13 (sebagai antisipasi pemupukan), dan untuk menjaga kelembaban disiram berdasarkan kondisi media tanam (bukan berdasarkan waktu pagi/sore), Bila kelembaban lingkungan rendah (suhu panas) sebaiknya secara rutin daun aglaonema dispray seperlunya dengan air tetapi tidak sampai membasahi media tanam. Kita tidak perlu tergoda dulu untuk menggunakan pupuk cair yang disemprotkan ke daun secara langsung.

Lakukan cara pemeliharaan tersebut selama 1,5 bulan, dan perhatikan apakah kuncup daun mekar ? atau apakah muncul kuncup daun muda ? Bila ya, artinya kita berhasil mengadaptasi tanaman aglaonema tersebut pada lingkungan pekarangan rumah. Teruskan pemeliharaan untuk 2 bulan berikutnya, dan perhatikan apakah daun yang muncul belakangan ukurannya relatif sama dengan daun yang sudah ada ?, bila ya maka kita sudah benar dalam memupuk tanaman dan menjaga kelembaban media tanam. Bila tidak (daun muda ukurannya lebih kecil- artinya media tanam miskin hara, atau lebih parah lagi miskin hara dan kering), dan ternyata daun yang sudah ada menguning dan mati, maka bersiap-siaplah untuk melakukan re-potting dan jangan menunggu sampai semua daun menguning. Perlu diketahui matinya daun karena tanaman mengalami busuk akar, jadi tidak perlu kaget ketika pot dibongkar ternyata sebagian besar akarnya busuk. Yang penting untuk diperhatikan adalah buang akar yang busuknya dan cuci bersih batang tanaman tersebut sebelum di tanam kembali.

Cara melakukan re-potting dapat mengikuti buku panduan, yang perlu diperhatikan adalah setelah melakukan re-potting (karena tanaman bermasalah) media tanam sebaiknya tidak disiram selama 1 – 2 hari. lady-thaiPenyiraman hanya dilakukan dengan cara spray langsung ke daun secara merata dengan menggunakan air yang dicampur pupuk daun yang dilarutkan. Pupuk yang digunakan sebaiknya mengandung unsur yang dapat merangsang pertumbuhan akar. Setelah 2 hari media tanam dapat disiram secukupnya (hanya untuk menjaga kelembaban media tanam), dan penyemprotan dengan spray tetap dilakukan secara rutin. Biasanya setelah lebih kurang 1 bulan kuncup daun muda sudah terlihat yang menandakan bahwa akar baru sudah tumbuh. Dalam hal ini, hobiist tidak perlu kaget, karena daun pertama yang muncul setelah pemulihan akar biasanya berukuran kecil. Hal tersebut umum terjadi, oleh kaena itu teruskan pemeliharaan, dan daun-daun berikutnya akan memiliki ukuran yang relatif normal (sebagai tanda akar telah tumbuh sempurna).

Penggunaan pupuk cair yang disemprotkan ke daun efektif diterapkan pada kebun milik grower dengan perlakuan yang ketat. Bagi kita sebagai hobiist sebaiknya bersikap rasional, yaitu pertumbuhan tanaman, ukuran daun, dan warna daun sangat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas akar, serta kualitas media tanam (kelembaban dan nutrisi yang terkandung dalam media tanam). Oleh karena itu, lebih baik menjaga keseimbangan unsur hara dalam media tanam, sedangkan pupuk cair yang disemprotkan ke daun sebaiknya digunakan pada kondisi seperti no 5 di atas, yaitu selama akar tanaman belum berfungsi optimal.
Catatan :

aglaonema : Untuk menjaga kelembaban, penting untuk mengatur penyiraman berdasarkan kondisi media tanam, bukan berdasarkan waktu (pagi/sore). Ciri yang perlu diperhatikan antara lain, bila daun cepat menguning/kering dan tanaman cenderung layu (loyo) artinya kelembabannya kurang. Sebaliknya bila terjadi busuk akar/batang artinya kelembabannya terlalu tinggi (cendawan cepat berkembang). Ciri yang dapat diandalkan telah terjadinya busuk akar adalah chocintanaman mogok tumbuh, serta daun tua mati perlahan, dan diikuti dengan daun tua berikutnya.
Media Tanam tidak tunggal, porositas tinggi, hindari media yang menyebabkan genangan. Usahakan media tanam memiliki ph netral. Gangguan yang sering muncul adalah bila media tanam agak kering, biasanya pot dijadikan sarang semut, sedangkan bila terlalu basah dan lembab biasanya menjadi tempat hidup cacing dan atau cendawan. Cara yang cukup efektif untuk mengindari semut dan cacing adalah dengan mencampurkan puradan kedalam media tanam (perhatikan aturan pakainya). Beberapa hobiist merekomendasikan media tanam hasil fermentasi, atau media tanam yang disterilisasi dengan cara tertentu. Faktanya cara seperti itu hanya bersifat sementara, cendawan/bakteri/virus tetap bisa datang dan pergi sesuka hati (memangnya mahluk tersebut punya hati ? he .. he …he). Oleh karena itu menjaga kelembaban media tanam adalah yang paling penting. Sebagai catatan, saya selalu menggunakan sekam biasa (bukan sekam bakar) dan mencampurnya dengan pupuk organik dengan perbandingan 1 : 1, serta menambahkan kotoran domba kering di atas media chiangmaytanam tersebut. Paling banter kalau tidak mau repot, saya gunakan media tanam campuran yang tersedia di toko dan tinggal pakai. Biasanya setelah 1 bulan tanam, saya baru menaburkan dekastar 13 : 13 : 13 dengan takaran 1 sendok teh rata untuk permukaan pot yang berdiameter +/- 25 cm.

Sebaiknya gunakan pot yang diameter permukaannya +/- sama dengan ujung daun, ketinggian media sebaiknya lebih rendah dari permukaan pot agar penambahan media dapat dilakukan bertahap sejalan dengan pertumbuhan tanaman (tidak sering mengganti pot). Ada tip dari Pak Wijaya (Benda : Tasikmalaya) sebaiknya pinggir pot dilubangi pada empat sisi dari atas ke bawah sebanyak mungkin dengan diameter +/- sama dengan diameter rokok menggunakan solder listrik, maksudnya agar aerasi media tinggi sehingga kelembaban media dapat dijaga. Tetapi mengandung kelemahan yaitu memudahkan semut bersarang, dan air siraman lebih cepat terbuang.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Beli Aglaonema